Kringgggg~~
Akhirnya
bel pulang berbunyi, memaksa menghentikan ceramah guru yang hampir dua jam berkoar-koar di depan kelas
dan hanya membahas materi yang sangat membosankan.
Padahal sebagian siswa di kelas,
atau mungkin semuanya tidak memperhatikan pelajaran. Seperti Danu si tukang
makan yang tertidur pulas dengan buku sebagai alasnya, bagaimana yang lainnya?
hampir semuanya mengikuti jejak Danu.
Wajah teman-temanku terlihat sumringah. Segera ku bereskan
barang-barangku dan memasukannya ke dalam tas. Setelah berdoa dan bersalaman
dengan guru, semua siswa berhamburan keluar kelas. Mungkin ada sebagian siswa
yang tidak langsung pulang ke rumah malah langsung pergi jalan-jalan bersama
teman-temannya, mungkin hanya sekedar refreshing ‘menurut mereka’ setelah seharian penuh ‘belajar’ di
sekolah.Ada sebagian besar pula memilih langsung pulang ke rumah karena
kelelahan mengingat ini sudah jam lima sore, aku salah satunya.
Aku
berjalan bersama teman-temanku menuju gerbang sekolah sambil bercanda dan
berbincang seperti biasanya
“Sohwa besok pagi jadi tidak kita
pergi jalan-jalan? “ Kata temanku, Anya
Oh
ya aku hampir lupa, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Sohwa Ummayah,
umurku 17 tahun dan kini aku sudah kelas tiga SMA. Ya itulah mengapa kini aku
pulang sore, untuk mengikuti tambahan pelajaran persiapan menuju UJIAN
NASIONAL.
“Ehm gimana yah, entar deh aku
pikirin lagi” jawabku
Sebenarnya
aku malas jalan-jalan karena capek, mendingan di rumah nonton tv atau ikut
pengajian
“Ayolah kamu ikut, sekaliiii
aja. Kamu kan jarang jalan-jalan sama kita” Rayu Hani temanku paling gendut
“Aku takut nih nanti dimarahin
sama orang tuaku” jawabku
Selain
aku malas pergi jalan-jalan karena capek, alasan lain karena orang tua pun ada.
Orang tuaku suka melarang aku pergi keluar rumah untuk hal kurang berguna
menurut mereka seperti jalan-jalan. Mereka selalu menyuruhku untuk langsung
pulang ke rumah setelah pulang sekolah agar tidak keluyuran kemana-mana kecuali
jika ada hal yang mendesak sih, tapi itupun mereka bertanya ini dan itu. Dari
pada sebelum pergi aku capek menjelaskan mendingan aku gak usah ikut
“Yahhh” keluh Hani
“Orang tua kamu overprotective
banget sih, pergi jalan-jalan aja gak boleh” protes Anya
“Ya gak tau, mungkin itu untuk
kebaikanku sendiri” Jawabku seadanya
Ketika
kita sedang bercanda mengenai pose tidur Danu yang lucu, mataku menangkap
seseorang yang ku kenal sedang berdiri di samping gerbang sambil
menengak-nengok kepalanya seperti sedang mencari seseorang. Tiba-tiba aku merasa
was-was.
‘Eh
itukan Hans, ngapain dia disini? Dia kan gak sekolah disini? Apa dia sedang
mencari seseorang? Ah mungkin dia mencari temannya yang sekolah disini atau
sedang menjemput pacarnya? Hihihi mungkin iya’
Tapi
bukan itu yang aku khawatirkan, aku takut dia nanti melihatku
‘
Semoga aja dia gak lihat aku’
“Sohwa?”
‘SEMOGA’
Aku
yang sengaja ,bersembunyi dibalik tubuh Hani yang besar langsung kaget ketika
Hans memanggil namaku.
“Ya?” aku terpaksa menengok
kearah Hans yang sudah berdiri didepanku
“Kamu Sohwa kan? Kamu masih
ingat aku gak?” Tanya Hans
“Oh eh a—a-aku ingat kok, kamu
Hans kan?” jawabku
Aku
dan Hans dulu berada di SMP yang sama. Aku dan Hans bisa dibilang berteman
“Alhamdulillah kamu masih ingat
aku, aku datang kesini nyariin kamu. Ada urusan penting nih”
‘Apa?!
Apakah ini mimpi? Aku tidak pernah bertemu dia sejak lulus SMP, kenapa sekarang
tiba-tiba dia mencari aku?’
“Kenapa tiba-tiba kamu nyariin
aku? Terus ada urusan penting apa?” tanyaku penasaran
“Ehm aku gak bisa nyeritain kamu
sekarang dan disini” jawab Hans sambil melirik Hana dan Anya
Aku
lupa ternyata masih ada Anya dan Hani disampingku.
“Kenapa gak sekarang dan disini
aja?”
“Gak bisa Wa, ini urusan
penting”
'Memangnya
urusan penting apa?'
“Ta—Tapi ”
“Ayolah Wa, dia butuh bantuanmu sekarang,
aku mohon” jawab Hans
‘Dia?
Dia siapa?’
--o-- bersambung --o--

0 komentar:
Posting Komentar