RSS

Jumat, 28 Agustus 2015

MEMORY 8 Part 2



“Ayolah Wa, dia butuh bantuanmu sekarang, aku mohon” jawab Hans

‘Dia? Dia siapa?’

-------

Dari ekspresi wajah Hans sepertinya ia serius, aku jadi tidak tega.

                “Kenapa kamu tidak menuruti aja permintaan dia Wa? Siapa tahu itu penting” ujar Anya ikut bersuara
                “Iya biasanya kamu selalu menolong orang yang minta bantuan kamu Wa” ujar Hani
                “Gak bakalan aku apa-apain kok” ujar Hans meyakinkan

Sepertinya dia melihat wajahku yang khawatir

“Hmmm baiklah, tapi jangan lama-lama”

Hans hanya tersenyum dan menyuruhku untuk mengikutinya.

                “Hati-hati Sohwa” teriak Hani dan Anya, Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol
Setelah berjalan beberapa meter dari sekolah, Hans berhenti didepan sebuah sepeda motor yang sepertinya miliknya.

                “Ayo naik” ucap Hans sambil memberikan helm kepadaku

Aku langsung kaget mendengarnya

                “Lho memangnya kita mau kemana? Katanya kamu mau bicarain hal penting? Kok suruh aku naik motor kamu sih?” Tanyaku

                “Tenang, aku akan ceritain kok tapi kamu harus ikut aku dulu ke suatu tempat.”

                “Kenapa sekarang kamu nyuruh aku ikut kamu? Mana hal penting yang mau kamu bicarain? Gak mau ah! Aku mau pulang aja! Nanti aku dimarahin sama orang tuaku” Tolakku sambil menyerahkan helm dan berjalan pergi

                “Sohwa tunggu, dia butuh bantuanmu, aku mohon”

                “Memangnya dia siapa? Kenapa kamu gak ce-

                “Ega” potong Hans

Aku langsung membeku mendengar namanya. Nama yang kadang membuatku sakit dan senang di waktu bersamaan. Aku langsung terdiam cukup lama sampai Hans berkata

                “Ega butuh bantuanmu sekarang, mungkin kamu masih benci dengannya. Aku mohon!”

Aku bingung harus bagaimana, apakah aku harus menuruti permintaan Hans ataukah aku harus pergi. Karena sejujurnya aku tidak ingin menemui seseorang di masa lalu. Tapi kenapa hatiku—

                “Baiklah” jawabku

Terlihat Hans tersenyum tipis

                “Ayo kita harus cepat pergi, nanti aku ceritakan dijalan”


--------

‘Oh tidak! Kenapa aku harus ikut dengan Hans dan harus bertemu lagi dengannya?! Apa yang sudah kulakukan? Ayolah Sohwa apa yang terjadi dengan dirimu?’

Sejak aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Hans, aku terus merutuki diriku sendiri. Kenapa aku harus pergi menemui dia? Aku benar-benar telah membuat keputusan yang konyol. Dan dalam hatiku sendiri aku bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Ega? Kenapa dia meminta bantuanku  dan ingin menemuiku setelah sekian lama tidak bertemu? Pertanyaan ini terus memenuhin pikiranku karena selama perjalanan Hans tidak mengatakan sepatah kata pun.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya aku dan Hans sampai di sebuah tempat yang membuatku mengkerutkan kening

Rumah Sakit? ‘ tanyaku dalam hati

                “Yah, inilah tempat yang aku maksud”  kata Hans seolah mengerti apa yang ada di hatiku, sepertinya dia melihat dari ekspresi wajahku. Aku hanya terdiam

Setelah kita memarkirkan motornya, kami segera masuk ke dalam rumah sakit. Aku hanya berjalan mengikuti dibelakang Hans dan berpikir apa Ega mengalami kecelakaan? 

                “Semoga kamu tidak kaget ketika melihatnya” Kata Hans sambil menengok ke belakang dengan ekspresi muka yang serius

              “Hei! Apa maksudmu? Jangan bercanda! Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kamu membawaku kesini? Kenapa kamu belum mengatakan apa yang terjadi? Kau membuatku bingung! Kesabaranku ada batasnya, kalau aku tahu begini lebih baik aku pu-

Ucapanku (atau omelanku) terpaksa terputus karena tiba-tiba Hans menghentikan langkahnya didepan sebuah ruangan (yang menurutku ini ruangan VIP) sepertinya kita sudah sampai. Hans lalu mengetok pintu 

                “Ayo masuk” kata Hans

Aku terpaksa mengikuti Hans masuk kedalam.  Setelah masuk kedalam betapa terkejutnya aku karena disini ada banyak orang, yang sepertinya keluarga Ega. Ada seorang pria paruh baya yang memakai kacamata, seorang ibu-ibu yang aku rasa berumur 40 tahunan, dan ada dua orang gadis, yang satu memakai kerudung biru dan aku kenal wajahnya. Dia adalah sepupu dari Ega dan dulu juga satu sekolah dengan kami, dan yang satunya tidak memakai kerudung dan berambut panjang yang aku tidak kenal.

                “Akhirnya kalian datang juga, kami sudah lama menunggu” kata pria paruh baya tersebut sambil menyalami kami. Aku hanya tersenyum kikuk.

                “Maaf Pak, kami ada agak lama karena kami sempat terganggu” jawab Hans

                “Tidak apa-apa. Kamu yang namanya Sohwa?” Tanya pria paruh baya tersebut

                “I—iiya Pak” jawabku

                “Terima kasih ya kamu sudah datang, dan maaf kalau Hans dan kami memaksamu datang. Kami butuh bantuanmu.”

                “Ohh ehh tidak apa-apa Pak, tapi kalau boleh saya tanya bantuan apa yah Pak?” tanyaku penasaran

                “Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Agus saya Pamannya Ega, ini adalah Ibu Rina dia adalah ibunya Ega, ini Lizy sepupunya Ega, dan ini Audy pacarnya Ega” kata Pamannya Ega memperkenalkan mereka satu persatu

Oh ternyata dia sudah punya pacar’

                “Dan kami mau minta tolong kamu untuk—” terlihat Pak Agus berpikir sejenak “—untuk  menemani Ega sementara waktu, karena dia terus saja mencarimu, setidaknya sampai dia sembuh” lanjut Pak Agus

                “Maksud Bapak apa? Kenapa saya harus menemani Ega? Memangnya Ega sakit apa?” sontak saja aku langsung bertanya

Setelah itu Pak Agus menceritakan semua apa yang terjadi dengan Ega, yang membuatku kaget. Ega mengalami depresi yang sangat hebat akibat beban yang selama ini dia tanggung. Sejak lulus SMP dia mulai  tinggal bersama ayah tirinya dan ibunya karena sebelumnya dari kecil dia tinggal bersama pamannya. Di rumah ayah tirinya dia setiap hari selalu di siksa oleh Ayah tirinya, di caci maki olehnya dan menyuruh dia untuk bekerja, Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa karena beliau juga selalu disiksa oleh suaminya sendiri. Sampai akhirnya Ega mengalami depresi yang hebat, dia selau ingin sendiri dan tidak ingin menemui siapapun bahkan ibunya sendiri. Hal ini membuatku kaget karena sebelumnya waktu SMP Ega dikenal sebagai anak yang periang.

                “Dia tidak ingin menemui siapapun, dia selalu berteriak dan melukai diri sendiri  jika ada orang yang mendekatinya, dia tidak mau makan walaupun sudah dibujuk oleh ibunya sendiri. Sampai pada akhirnya dia selalu berteriak memanggil namamu, Sohwa” kata Pak Agus mengakhiri ceritanya

Dibelakang Pak Agus, Ibu Ega menangis tersedu-sedu  dan disampingnya terlihat Lizy dan Audy menenangkannya.

                “Bapak mohon Sohwa, maukah kau membantu Ega untuk sementara waktu?” bujuk Pak Agus

                “Tapi-” Kataku sambil berpikir karena menurutku ini adalah permintaan yang sulit

                “Ibu mohon nak! Maukah kau membantu kami? Ega bahkan pernah sempat bunuh diri karena dia ingin menemuimu!” tiba-tiba saja Ibu Ega berlari dan menggenggam tanganku sambil menangis

Aku jadi tidak tega melihatnya, semua orang terlihat memohon bantuanku. Setelah berpikir sejenak, aku memejamkan mataku dan berkata

                “Baiklah” terlihat semua orang tersenyum

Akhirnya setelah aku setuju untuk membantu, Ibu Ega menuntunku menuju ke ruangan Ega yang berada tepat disebelah ruang tunggu yang hanya di batasi dengan tirai dan sebuah kaca. Ibu Ega lalu membuka tirai tersebut, aku melihat  Ega dibalik kaca. Terlihat Ega sedang duduk terdiam diatas kasurnya dengan tatapan mata kosong. Aku menjadi kasihan melihatnya, aku tidak percaya seorang anak yang dulunya periang sekarang berubah menjadi patung  tanpa ekspresi. Lalu Ibu Ega menyuruhku masuk. Sebenarnya aku tidak ingin masuk sendiri karena tidak baik jika seorang perempuan dan laki-laki berada di ruangan yang sama.

                “Temani aku masuk” pintaku kepada Hans yang berada disampingku

                “Tapi jika aku masuk nanti Ega bisa histeris” jawab Hans

                “Itu syaratku karena aku mau membantu” jawabku dengan nada datar

Hans lalu menengok ke arah Ibu Ega meminta persetujuan, Ibu Ega hanya mengangguk. Aku dan Hans lalu masuk kedalam. Setelah aku menutup pintu, Hans memberi isyarat agar aku mendekati Ega yang posisinya sedang membelakangi kami. Ku langkahkan kakiku pelan-pelan mendekati kasur Ega

                “Siapa kau? Siapa yang mengijinkan kamu masuk ke kamarku?”  kata Ega dengan dingin

Sepertinya dia tahu kehadiranku

                “ehh-hmm a-a-aku So-Sohwa” jawabku dengan nada bergetar karena aku takut

                “Sohwa? Kaukah itu?” kata Ega sambil membalikan badannya

                “i-iya”

Mata kami bertemu dan Ega menatapku cukup lama dengan pandangan antara sedih dan senang. Aku hanya terdiam membeku karena ini pertama kalinya kita bertemu setelah sekian lama.

                “So-Sohwa aku sudah lama menunggumu, akhirnya kau datang”  Kata Ega lirih dan tersenyum

Tiba-tiba Ega berdiri dan berjalan pelan ke tempatku berdiri. Jujur saja aku merasa takut, refleks aku mundur sedikit ke belakang. Lalu aku menengok ke arah Hans untuk minta pendapatnya. Hans hanya mengangguk dan mengucapkan ‘mendekatlah’ tanpa suara, aku hanya diam membeku ditempat. Tiba-tiba Ega yang sudah didepanku memegang pipiku, tanpa sadar aku menepis tangannya.

                “Ke-kenapa kau menepis tanganku? Kau—benci  kepadaku?” Tanya Ega menatapku sedih

Aku bingung menjawabnya karena jujur aku tidak bermaksud melukai hatinya, sepertinya dia tersinggung.

                “Aku tidak bermaksud berbuat begitu kepadamu, hanya saja—kita bukan muhrim, yah kita bukan muhrim” kataku sambil tersenyum  itulah yang ada di isi kepalaku

Ega hanya terdiam, sepertinya dia percaya kata-kataku.

                “Maafkan aku, kau masih seperti dulu Sohwa. Kau tidak berubah—“ tiba-tiba dia menunduk

              “Maafkan aku Sohwa, maafkan tingkahku yang dulu. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sekarang aku sadar  aku telah berbuat jahat kepadamu aku a-a-aku—“ 


Ega menangis dihadapanku dan terus meminta maaf kepadaku. Tiba-tiba dia mulai kejang-kejang


--o-- Bersambung --o--


0 komentar:

Posting Komentar