“Ayolah
Wa, dia butuh bantuanmu sekarang, aku mohon” jawab Hans
‘Dia?
Dia siapa?’
-------
Dari
ekspresi wajah Hans sepertinya ia serius, aku jadi tidak tega.
“Kenapa kamu tidak menuruti aja
permintaan dia Wa? Siapa tahu itu penting” ujar Anya ikut bersuara
“Iya biasanya kamu selalu menolong
orang yang minta bantuan kamu Wa” ujar Hani
“Gak bakalan aku apa-apain kok”
ujar Hans meyakinkan
Sepertinya
dia melihat wajahku yang khawatir
“Hmmm baiklah, tapi jangan lama-lama”
Hans
hanya tersenyum dan menyuruhku untuk mengikutinya.
“Hati-hati Sohwa” teriak Hani
dan Anya, Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol
Setelah
berjalan beberapa meter dari sekolah, Hans berhenti didepan sebuah sepeda motor
yang sepertinya miliknya.
“Ayo naik” ucap Hans sambil
memberikan helm kepadaku
Aku
langsung kaget mendengarnya
“Lho
memangnya kita mau kemana? Katanya kamu mau bicarain hal penting? Kok suruh aku
naik motor kamu sih?” Tanyaku
“Tenang,
aku akan ceritain kok tapi kamu harus ikut aku dulu ke suatu tempat.”
“Kenapa
sekarang kamu nyuruh aku ikut kamu? Mana hal penting yang mau kamu bicarain? Gak
mau ah! Aku mau pulang aja! Nanti aku dimarahin sama orang tuaku” Tolakku
sambil menyerahkan helm dan berjalan pergi
“Sohwa
tunggu, dia butuh bantuanmu, aku mohon”
“Memangnya
dia siapa? Kenapa kamu gak ce-”
“Ega”
potong Hans
Aku
langsung membeku mendengar namanya. Nama yang kadang membuatku sakit dan senang
di waktu bersamaan. Aku langsung terdiam cukup lama sampai Hans berkata
“Ega butuh bantuanmu sekarang,
mungkin kamu masih benci dengannya. Aku mohon!”
Aku
bingung harus bagaimana, apakah aku harus menuruti permintaan Hans ataukah aku
harus pergi. Karena sejujurnya aku tidak ingin menemui seseorang di masa lalu.
Tapi kenapa hatiku—
“Baiklah” jawabku
Terlihat
Hans tersenyum tipis
“Ayo kita harus cepat pergi,
nanti aku ceritakan dijalan”
‘Oh
tidak! Kenapa aku harus ikut dengan Hans dan harus bertemu lagi dengannya?! Apa
yang sudah kulakukan? Ayolah Sohwa apa yang terjadi dengan dirimu?’
Sejak
aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Hans, aku terus merutuki diriku
sendiri. Kenapa aku harus pergi menemui dia? Aku benar-benar telah membuat
keputusan yang konyol. Dan dalam hatiku sendiri aku bertanya-tanya, apa yang
terjadi dengan Ega? Kenapa dia meminta bantuanku dan ingin menemuiku setelah sekian lama tidak
bertemu? Pertanyaan ini terus memenuhin pikiranku karena selama perjalanan Hans
tidak mengatakan sepatah kata pun.
Setelah
menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya aku dan Hans sampai di sebuah
tempat yang membuatku mengkerutkan kening
‘Rumah
Sakit? ‘ tanyaku dalam hati
“Yah, inilah tempat yang aku
maksud” kata Hans seolah mengerti apa
yang ada di hatiku, sepertinya dia melihat dari ekspresi wajahku. Aku hanya
terdiam
Setelah
kita memarkirkan motornya, kami segera masuk ke dalam rumah sakit. Aku hanya
berjalan mengikuti dibelakang Hans dan berpikir apa Ega mengalami kecelakaan?
“Semoga kamu tidak kaget ketika
melihatnya” Kata Hans sambil menengok ke belakang dengan ekspresi muka yang
serius
“Hei!
Apa maksudmu? Jangan bercanda! Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kamu
membawaku kesini? Kenapa kamu belum mengatakan apa yang terjadi? Kau membuatku
bingung! Kesabaranku ada batasnya, kalau aku tahu begini lebih baik aku pu-”
Ucapanku
(atau omelanku) terpaksa terputus karena tiba-tiba Hans menghentikan
langkahnya didepan sebuah ruangan (yang menurutku ini ruangan VIP)
sepertinya kita sudah sampai. Hans lalu mengetok pintu
“Ayo masuk” kata Hans
Aku
terpaksa mengikuti Hans masuk kedalam.
Setelah masuk kedalam betapa terkejutnya aku karena disini ada banyak
orang, yang sepertinya keluarga Ega. Ada seorang pria paruh baya yang memakai
kacamata, seorang ibu-ibu yang aku rasa berumur 40 tahunan, dan ada dua orang
gadis, yang satu memakai kerudung biru dan aku kenal wajahnya. Dia adalah
sepupu dari Ega dan dulu juga satu sekolah dengan kami, dan yang satunya tidak
memakai kerudung dan berambut panjang yang aku tidak kenal.
“Akhirnya kalian datang juga,
kami sudah lama menunggu” kata pria paruh baya tersebut sambil menyalami kami.
Aku hanya tersenyum kikuk.
“Maaf Pak, kami ada agak lama
karena kami sempat terganggu” jawab Hans
“Tidak apa-apa. Kamu yang
namanya Sohwa?” Tanya pria paruh baya tersebut
“I—iiya Pak” jawabku
“Terima
kasih ya kamu sudah datang, dan maaf kalau Hans dan kami memaksamu datang. Kami
butuh bantuanmu.”
“Ohh
ehh tidak apa-apa Pak, tapi kalau boleh saya tanya bantuan apa yah Pak?”
tanyaku penasaran
“Sebelumnya
perkenalkan dulu, nama saya Agus saya Pamannya Ega, ini adalah Ibu Rina dia
adalah ibunya Ega, ini Lizy sepupunya Ega, dan ini Audy pacarnya Ega” kata
Pamannya Ega memperkenalkan mereka satu persatu
‘Oh ternyata dia sudah punya pacar’
“Dan
kami mau minta tolong kamu untuk—” terlihat Pak Agus berpikir sejenak “—untuk menemani Ega sementara waktu, karena dia terus
saja mencarimu, setidaknya sampai dia sembuh” lanjut Pak Agus
“Maksud
Bapak apa? Kenapa saya harus menemani Ega? Memangnya Ega sakit apa?” sontak saja aku langsung bertanya
Setelah
itu Pak Agus menceritakan semua apa yang terjadi dengan Ega, yang membuatku
kaget. Ega mengalami depresi yang sangat hebat akibat beban yang selama ini dia
tanggung. Sejak lulus SMP dia mulai
tinggal bersama ayah tirinya dan ibunya karena sebelumnya dari kecil dia
tinggal bersama pamannya. Di rumah ayah tirinya dia setiap hari selalu di siksa
oleh Ayah tirinya, di caci maki olehnya dan menyuruh dia untuk bekerja, Ibunya
tidak bisa berbuat apa-apa karena beliau juga selalu disiksa oleh suaminya
sendiri. Sampai akhirnya Ega mengalami depresi yang hebat, dia selau ingin
sendiri dan tidak ingin menemui siapapun bahkan ibunya sendiri. Hal ini
membuatku kaget karena sebelumnya waktu SMP Ega dikenal sebagai anak yang
periang.
“Dia
tidak ingin menemui siapapun, dia selalu berteriak dan melukai diri
sendiri jika ada orang yang
mendekatinya, dia tidak mau makan walaupun sudah dibujuk oleh ibunya sendiri.
Sampai pada akhirnya dia selalu berteriak memanggil namamu, Sohwa” kata Pak
Agus mengakhiri ceritanya
Dibelakang
Pak Agus, Ibu Ega menangis tersedu-sedu
dan disampingnya terlihat Lizy dan Audy menenangkannya.
“Bapak mohon Sohwa, maukah kau
membantu Ega untuk sementara waktu?” bujuk Pak Agus
“Tapi-” Kataku sambil berpikir karena
menurutku ini adalah permintaan yang sulit
“Ibu
mohon nak! Maukah kau membantu kami? Ega bahkan pernah sempat bunuh diri karena
dia ingin menemuimu!” tiba-tiba saja Ibu Ega berlari dan menggenggam tanganku
sambil menangis
Aku
jadi tidak tega melihatnya, semua orang terlihat memohon bantuanku. Setelah
berpikir sejenak, aku memejamkan mataku dan berkata
“Baiklah” terlihat semua orang
tersenyum
Akhirnya
setelah aku setuju untuk membantu, Ibu Ega menuntunku menuju ke ruangan Ega
yang berada tepat disebelah ruang tunggu yang hanya di batasi dengan tirai dan
sebuah kaca. Ibu Ega lalu membuka tirai tersebut, aku melihat Ega dibalik kaca. Terlihat Ega sedang duduk
terdiam diatas kasurnya dengan tatapan mata kosong. Aku menjadi kasihan
melihatnya, aku tidak percaya seorang anak yang dulunya periang sekarang
berubah menjadi patung tanpa ekspresi.
Lalu Ibu Ega menyuruhku masuk. Sebenarnya aku tidak ingin masuk sendiri karena
tidak baik jika seorang perempuan dan laki-laki berada di ruangan yang sama.
“Temani aku masuk” pintaku
kepada Hans yang berada disampingku
“Tapi jika aku masuk nanti Ega
bisa histeris” jawab Hans
“Itu syaratku karena aku mau
membantu” jawabku dengan nada datar
Hans
lalu menengok ke arah Ibu Ega meminta persetujuan, Ibu Ega hanya mengangguk.
Aku dan Hans lalu masuk kedalam. Setelah aku menutup pintu, Hans memberi
isyarat agar aku mendekati Ega yang posisinya sedang membelakangi kami. Ku
langkahkan kakiku pelan-pelan mendekati kasur Ega
“Siapa kau? Siapa yang
mengijinkan kamu masuk ke kamarku?” kata
Ega dengan dingin
Sepertinya
dia tahu kehadiranku
“ehh-hmm a-a-aku So-Sohwa”
jawabku dengan nada bergetar karena aku takut
“Sohwa? Kaukah itu?” kata Ega
sambil membalikan badannya
“i-iya”
Mata
kami bertemu dan Ega menatapku cukup lama dengan pandangan antara sedih dan
senang. Aku hanya terdiam membeku karena ini pertama kalinya kita bertemu
setelah sekian lama.
“So-Sohwa aku sudah lama
menunggumu, akhirnya kau datang” Kata
Ega lirih dan tersenyum
Tiba-tiba
Ega berdiri dan berjalan pelan ke tempatku berdiri. Jujur saja aku merasa
takut, refleks aku mundur sedikit ke belakang. Lalu aku menengok ke arah Hans
untuk minta pendapatnya. Hans hanya mengangguk dan mengucapkan ‘mendekatlah’
tanpa suara, aku hanya diam membeku ditempat. Tiba-tiba Ega yang sudah
didepanku memegang pipiku, tanpa sadar aku menepis tangannya.
“Ke-kenapa kau menepis tanganku?
Kau—benci kepadaku?” Tanya Ega menatapku
sedih
Aku
bingung menjawabnya karena jujur aku tidak bermaksud melukai hatinya,
sepertinya dia tersinggung.
“Aku
tidak bermaksud berbuat begitu kepadamu, hanya saja—kita bukan muhrim, yah kita
bukan muhrim” kataku sambil tersenyum
itulah yang ada di isi kepalaku
Ega hanya terdiam, sepertinya dia percaya
kata-kataku.
“Maafkan
aku, kau masih seperti dulu Sohwa. Kau tidak berubah—“ tiba-tiba dia menunduk
“Maafkan
aku Sohwa, maafkan tingkahku yang dulu. Aku tidak bermaksud menyakitimu,
sekarang aku sadar aku telah berbuat
jahat kepadamu aku a-a-aku—“
Ega menangis dihadapanku
dan terus meminta maaf kepadaku. Tiba-tiba dia mulai kejang-kejang
--o-- Bersambung --o--

0 komentar:
Posting Komentar